Bank Jumbo & Saham Prajogo Bikin IHSG Sesi I Terkapar

Bank Jumbo & Saham Prajogo Bikin IHSG Sesi I Terkapar

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau terkoreksi pada perdagangan sesi I Jumat (26/1/2024), di mana pelaku pasar menyoroti data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari ekspektasi.

Hingga pukul 11:30 WIB, IHSG merosot 0,92% ke posisi 7.111,847. IHSG pun nyaris ambles hingga 1% pada akhir sesi I hari ini.

Nilai transaksi https://sportifkas138.shop/ IHSG pada sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 5,6 triliun dengan melibatkan 10 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 712.504 kali. Sebanyak 163 saham menguat, 345 saham melemah, dan 234 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor transportasi menjadi pemberat terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 1,66%. Selain itu, sektor teknologi juga menjadi pemberat IHSG yakni sebesar 1,64%.

Selain itu, beberapa saham juga memperberat (laggard) IHSG pada sesi II hari ini. Berikut saham-saham yang menjadi laggard IHSG.

Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Bank Central Asia BBCA -13,75 9.300 -2,11%
Bank Rakyat Indonesia (Persero) BBRI -11,69 5.425 -1,81%
Chandra Asri Petrochemical TPIA -8,73 5.250 -4,98%
Barito Renewables Energy BREN -8,71 5.025 -4,29%
GoTo Gojek Tokopedia GOTO -6,20 81 -3,57%
Amman Mineral Internasional AMMN -5,04 7.375 -1,99%

Sumber: Refinitiv

Dua saham perbankan jumbo menjadi top laggard atau pemberat terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 13,7 indeks poin dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 11,7 indeks poin.

IHSG yang terkoreksi nyaris 1% terjadi di tengah masih kuatnya data ekonomi dan tenaga kerja Amerika Serikat (AS).

Data produk domestik bruto (PDB) menunjukkan ekonomi AS tumbuh sebesar 3,3% pada kuartal IV-2023. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari ekspektasi 2% dari para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones, yang menggarisbawahi berlanjutnya ketahanan ekonomi meskipun ada kenaikan suku bunga dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Sementara untuk data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) mencatat kenaikan triwulanan sebesar 2% ketika tidak termasuk makanan dan energi, yang merupakan ukuran inti yang disukai The Fed ketika menilai inflasi. Inflasi umum hanya meningkat 1,7%.

Namun, data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan kebalikan dari data ekonomi terbaru AS, di mana Jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran meningkat 25.000 menjadi 214.000 pada pekan yang berakhir tanggal 20 Januari.

Angka ini meningkat secara signifikan dari level terendah dalam 16 bulan yang dicapai pada minggu sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 200.000.

Sementara itu, klaim yang berlanjut meningkat sebesar 27.000 menjadi 1.833.000, sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 1.828.000 yang menunjukkan bahwa para penganggur membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan.

Data tersebut kontras dengan serangkaian angka ketenagakerjaan yang dirilis pada bulan Desember dan awal Januari, menantang pandangan bahwa pasar tenaga kerja akan tetap kuat secara historis setelah kampanye pengetatan yang dilakukan oleh The Fed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*